You can make an amazing game but you can’t make a success. Your players make the success.”

Imre Jele (Co-Founder of Bossa Studios)

Menilik industri Game di Indonesia Pada dasarnya sebuah game diciptakan dengan tujuan untuk menghibur. Ketika manusia modern membicarakan hiburan untuk melepas jenuh, bosan, maupun penat, maka bermain adalah salah satu solusi yang tepat, karena bermain adalah sifat dasar manusia dan semua orang suka bermain tanpa memandang usia. Rieber (1996) menuturkan bahwa bermain, terutama pada anak usia dini, memainkan peranan penting dalam psikologi, perkembangan sosial dan intelektual, karena merupakan kegiatan sukarela yang secara intrinsik memotivasi, melibatkan beberapa tingkat aktivitas, dan sering memiliki kualitas terpercaya. Profesor John Huizinga, seorang teoritisi budaya dan sejarahwan Belanda menyebut bahwa manusia sebagai “makhluk bermain” atau Homo Ludens, makhluk yang suka bermain atau menciptakan permainan. Pendapat Prof. Huizinga seperti yang dikutip dalam gamestudies.org mengemukakan bahwa bermain sebagai aktivitas yang bebas dan bermakna, dilakukan untuk manfaat permainan itu sendiri, terpisah dari syarat-syarat kehidupan pada prakteknya dan diikat oleh aturan-aturan tersendiri yang mengikat secara absolut. Game sendiri bila diterjemahkan dalam dalam bahasa Indonesia adalah sebuah permainan, walaupun pada perkembangannya game lebih identik kepada permainan digital karena menggunakan media elektronik atau gadget, dan bukannya permainan tradisional.Menilik industri game baik di kancah global maupun Indonesia, ternyata industri ini mempunyai potensi yang sangat besar. Lembaga riset RW Baird dalam Merdesa! mengemukakan bahwa Industri game global menghasilkan US$60 miliar pendapatan untuk 2011, dan terus tumbuh 10% s/d 20% per tahun, walaupun ada wilayah yang juga mengalami penurunan. Data survei Newzoo tahun 2014 seperti yang dikutip dari situs AGI, Industri game di Indonesia bernilai Rp 2,3 triliun dan diperkirakan terus menanjak di tahun 2017 ini. Vendor game papan atas dunia seperti Gameloft (Paris, Perancis), Microsoft (Redmond, Washington, Amerika), dan Sony (Tokyo, Jepang) menganggap Indonesia adalah market yang besar, hal ini dapat kita lihat dari banyaknya distribusi ke Indonesia seperti game dalam konsol, mobile, maupun online serta didirikannya gameloft di Jogjakarta yang konon memiliki lebih dari 600 karyawan.Lalu bagaimana dengan industri game Indonesia sendiri? Ternyata kesuksesan industri game global berdampak pada menjamurnya developer game lokal di Indonesia. Tercatat ada sekitar 1.000 game lebih yang telah dibuat oleh sekitar 400 developer game di tanah air yang selalu menelurkan game lokal berkualitas yang digemari berbagai lapisan usia, baik laki-laki maupun perempuan. Agate Studio, Enthrean Guardian, Educa Studio, Alegrium, Menara Games, TouchTen Game, Tinker Game, Altermyth Studio, dan Toge Production, adalah sejumlah developer game di Indonesia yang hasil karyanya cukup dikenal di masyarakat. Berbagai komunitas game indie pun tumbuh layaknya jamur di musim penghujan.

Gambar 1. Agate Studio. Sumber: maxmanroe.com

Karena industri game merupakan bagian dari industri kreatif yang dapat mendukung perekonomian bangsa, beberapa event dan terbentuknya asosiasi tentang game pernah dihelat, seperti:

1) Indonesia Information and Communication Technology Award (INAICTA), adalah sebuah acara akbar berskala nasional yang diselenggarakan oleh komunitas teknologi informasi dan komunikasi (TIK) sejak 2007 silam. INAICTA bertujuan untuk memberikan apresiasi terhadap karya-karya terbaik di bidang telematika kreasi anak bangsa, dan mendapat dukungan penuh oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika. Sampai saat ini INAICTA banyak memunculkan para kreator dan inovator muda bidang TIK untuk menghadapi pasar bebas Asia Tenggara yang dikenal dengan sebutan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).

2) Jakarta Games Show (JGS), adalah wadah dalam mempertemukan beragam pemain di industri game lokal, mulai dari developer, publisher, animasi, serta konsumen. JGS bertujuan menunjukkan Potensi Industri game lokal di Indonesia dan selaras dengan tema yang diangkat, yaitu “Brings The Future of Gaming”.

3) Indonesia Game Show (IGS), adalah pameran video game terbesar di Indonesia diselenggarakan oleh majalah Gamestation. Pameran IGS banyak diisi oleh developer lokal dan publisher lokal yang memamerkan game-game mereka walau mayoritas game tersebut buatan luar Indonesia, dan berharap menjadi barometer perkembangan game di Indonesia. Pada salah satu perhelatan IGS tahun pernah bersamaan dengan event besar lainnya, yaitu Popcon (Popular Culture Convention) Asia yang bertujuan menampilan kreatifitas seperti komik, action figure, film, dan animasi.

Gambar 2. Penulis ketika berpameran di Indonesia Game Show yang dihelat di Jakarta Convention Centre. Foto: Dokumentasi Pribadi

4) Asosiasi Game Indonesia (AGI) yang terbentuk pada 2013 silam juga menjadi sejarah baru untuk industri game di Indonesia karena mampu menjadi wadah komunikasi dan pengembangan industri game di Indonesia. Sebagai basis perkumpulan orang yang mempunyai kepentingan bersama, AGI telah bersinergi dengan Kementerian Perindustrian dan Asosiasi Olahraga Elektronik Indonesia (IeSPA), dan menghasilkan kesepakatan bahwa Pemerintah akan dana sekitar 30 Miliar untuk pengembangan Industri game tanah air. AGI sejajar dengan asosiasi lain seperti IAI (arsitek), AIDIA (Desain grafis/ Komunikasi visual), dan IDI (Dokter).

5) Indonesia Indie Game Festival (IN.GAME), adalah upaya komunitas developer game lokal untuk meningkatkan kualitas game Indonesia secara umum sekaligus menyebarluaskan informasi game-game karya lokal ke publik dengan memamerkan puluhan game terbaik dari developer indie lokal. Event yang dihelat di Yogyakarta dan diadakan oleh Komunitas Game Developer Jogja (GameLan) yang didukung oleh berbagai komunitas kota lain seperti: Bandung (GDB), Semarang (SMG), Salatiga (SALAD), Bali (BgDe), Surabaya (GADAS), Asosiasi Game Indonesia (AGI), dan juga Jogja Creative Assosiation ini sukses digelar selama 4 hari mulai tanggal 13 Agustus hingga berakhir pada 16 Agustus 2015 lalu dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia.6) ITB Digital Media Festival, dihelat khusus Institut Teknologi Bandung untuk mendorong pertumbuhan industri digital di Indonesia, dan memepertemukan berbagai stakeholder seperti masyarakat, game developer, industri, pemerintah, akademisi untuk bersinergi secara total dalam perkembangan di era digital.

Gambar 3. logo event dan asosiasi game. Diolah dari berbagai sumber

Dengan banyaknya event tahunan dan besarnya dukungan dari berbagai pemangku kepentingan, maka semakin terbuka luas kesempatan bagi kita semua untuk sukses berkarir di dunia gaming. Tetapi tantangan pasti tetap ada, karena ekosistem industri game di Indonesia belum sejajar dengan negara besar penghasil game lainnya. Berikut beberapa langkah jitu yang perlu dilakukan oleh para developer game lokal maupun start up bidang digital business:

1) Mewujudkan mimpi yang besar.

Developer game merupakan bisnis yang menyenangkan, belum banyak orang yang berkecimpung di bidang ini selain korporasi-korporasi besar. Walaupun pengembang game memiliki banyak peluang dibanding bisnis lain, tetapi para founder-nya harus memiliki mimpi yang besar untuk mewujudkannya. Mimpi merupakan hal dasar yang harus dimiliki oleh calon orang-orang hebat, namun seseorang dengan impian tinggi tanpa adanya tindakan adalah omong kosong belaka. Pada tahap awal, para start-up harus banyak belajar tentang teknis pembuatan sebuah game secara otodidak, karena hampir 70% developer game belajar membuat game secara otodidak. Sediakan waktu untuk membaca buku tutorial, latihan software yang banyak didapatkan di youtube, atau bertanya pada senior atau dosen game di lingkungan terkait. Perbanyak bergaul dan aktif di forum komunitas game untuk lebih memperkaya wawasan, dan yang tidak kalah penting adalah rajin mengikuti perkembangan tren dunia game, terutama berkaitan dengan gameplay yang merupakan ‘roh’ sebuah game.

2) Bekerja berdasarkan minat dan bakat (passion).

Penulis setuju dengan quotes Ridwan Kamil yang menyebutkan bahwa pekerjaan yang paling menyenangkan adalah hobi yang dibayar. Secara otomatis, seseorang yang mempunyai hobi tertentu akan mencari tahu segala sesuatu yang berkaitan dengan hobi tersebut secara lebih detail dan mendalam, sehingga akan sangat mudah baginya memperoleh kesuksesan karena perasaan senang yang pasti memudahkannya. Hobi bermain game sedari kecil dan berkeinginan kuat untuk menciptakan game sendiri, merupakan sebuah awal yang bagus untuk mengembangkan karir di dunia game. Ketika anda bekerja dengan partner yang memiliki passion dan chemistry sama, maka jalan kedepan pun seakan semakin dimudahkan.

3) Belajar dari orang sukses.

Tidak ada kesuksesan yang diraih dengan mudah. Semua orang sukses adalah mereka yang tidak pernah berhenti mencoba, dan tidak jarang harus menemui kegagalan atau kebangkrutan. Mereka mau belajar tanpa henti, totalitas berkarya, dan mau mengambil resiko dengan perhitungan yang matang. Agate studio sebagai rujukan developer game sukses di Indonesia pada awalnya hanya bermodalkan sumber daya yang minim dan juga tanpa campur tangan investor. Agate hanya bermodalkan passion, nekat, dan kegilaan total pada dunia game. beberapa perjalanan agate dalam mengembangkan game pernah menerapkan strategi yang salah dan menyebabkan kerugian, tetapi dapat bangkit dan berjuang kembali. Steve Jobs (pendiri Apple) dalam pidatonya di Stanford University berpesan supaya kita tidak cepat berpuas hati, hanya orang lapar akan ilmu pengetahuan yang akan terus belajar dan hanya orang yang merasa bodoh yang akan terus memperbaiki kemampuannya (stay hungry, stay foolish). Kita dapat membaca biografi dan mengikuti kiat sukses orang-orang paling berperan dalam industri digital kreatif, seperti Mark Zuckerberg (pendiri Facebook), Bill Gates (pendiri Microsoft), Hiroshi Yamauchi (kreator Mario Bros) dan orang-orang sukses lainnya yang pastinya dapat memotivasi kita berkiprah di dunia game.4) Dukungan keluargaDukungan keluarga berupa semangat maupun materi bagi developer game pemula sangat penting karena menjadi aspek penguat bila terjadi kegagalan atau patah semangat memperjuangkan passion. Berbeda dengan investor atau klien yang menyalahkan atau menjatuhkan bila project yang dikerjakan tidak sesuai harapan. Keluarga juga dapat mendukung calon developer untuk bersekolah atau kuliah di jurusan yang bermuara ke industri kreatif atau bahkan jurusan game langsung seperti ITB, Udinus, atau ITS.

Berdasarkan pemaparan diatas harapannya Industri game Tanah Air dapat lebih berkembang, menjadi tuan rumah di negeri sendiri, dan mencoba kesempatan untuk dapat mendunia. Yang dapat kita lakukan adalah mendukung penuh sekaligus menviralkan karya anak bangsa.

Bersambung………
Godham Eko Saputro, S.Sn, M.Ds,

Penulis adalah lulusan S2 Game Technology Institut Teknologi Bandung, CEO CalSolusindo, serta mengajar di kampus Udinus jurusan DKV, dapat dihubungi di godham.eko@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *